AS Terjebak di Laut Merah, Harus Siap Hadapi Penutupan Selat Gibraltar

loading…

Spanduk anti-Amerika Serikat melintas saat parade militer di Teheran, Iran. Foto/AP

WASHINGTON– Amerika Serikat (AS) pekan ini akan membentuk koalisi untuk mengamankan Laut Merah untuk pelayaran di tengah pembajakan dan serangan rudal yang tak henti-hentinya terhadap kargo komersial terkait Israel yang dilakukan milisi Houthi Yaman dengan latar belakang krisis Gaza.

Kini, Iran, pemimpin koalisi regional ‘Poros Perlawanan’, telah memberikan peringatannya sendiri.

Amerika Serikat dan sekutunya “terjebak” di Laut Merah dan harus bersiap menghadapi penutupan saluran air yang membentang hingga gerbang barat Laut Mediterania, menurut peringatan Kepala Staf Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Mohammad Reza Naqdi.

“Dengan berlanjutnya kejahatan (di Gaza), Amerika Serikat dan sekutunya harus menunggu lahirnya kekuatan perlawanan baru dan penutupan saluran air dan jalan lainnya,” tegas Naqdi pada upacara memperingati Hasan Irlu, mendiang komandan IRGC dan mantan duta besar Iran untuk Yaman.

“Kemarin Teluk Persia dan Selat Hormuz adalah mimpi buruk bagi mereka, hari ini Selat Bab al-Mandab dan Laut Merah telah menjebak mereka, dan dengan berlanjutnya kejahatan tersebut, mereka akan segera menunggu penutupan Laut Mediterania, (Selat) Gibraltar dan jalur air lainnya,” papar komandan tersebut.

“Penindasan yang sudah keterlaluan harus menunggu badainya,” ujar dia memperingatkan.

“Rezim Zionis dan Amerika Serikat sudah gila karena parahnya kejahatan dan kebrutalan yang mereka lakukan, dan mereka bahkan tidak bisa mengakui kepentingan mereka sendiri,” ujar Naqdi, seraya mengatakan kedua kekuatan tersebut tampaknya tidak mampu “belajar dari kejadian di masa lalu.”

“Jika bukan karena parahnya kejahatan mereka di masa lalu di Lebanon, Hizbullah tidak akan mampu menyerang Israel setiap hari… Jika mereka tidak menyebabkan pertumpahan darah di Palestina di masa lalu, Hamas tidak akan mampu menghunus pedang mereka begitu kuat hari ini. Jika bukan karena kejahatan keji mereka di Irak dan pusat penyiksaan Abu Ghraib serta pertumpahan darah yang dilakukan oleh Daesh (ISIS), Pasukan Mobilisasi Populer Irak tidak akan dibentuk untuk menyerang Amerika setiap hari. Jika mereka tidak menjatuhkan begitu banyak bom di pasar Saada dan Sanaa, Ansar Allah (Houthi) tidak akan mencapai status dan otoritas yang mereka miliki di Yaman dan mampu menutup Laut Merah,” papar pejabat senior IRGC itu.

Naqdi tidak merinci operasi apa yang secara spesifik mungkin dilakukan untuk menutup jalur perairan regional bagi pasukan AS dan sekutunya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *