Atikoh Ganjar Komitmen Budayakan Antikorupsi di Keluarga

loading…

Atikoh Ganjar berkomitmen budayakan antikorupsi di keluarganya. Dia memiliki cara inspiratif untuk menerapkan hal tersebut baik ke Ganjar Pranowo atau putranya. Foto/Devi Ari Rahmadhani

JAKARTA Atikoh Ganjar berkomitmen budayakan antikorupsi di keluarganya. Dia pun memiliki cara inspiratif untuk menerapkan hal tersebut baik ke suami, Ganjar Pranowo atau putranya, Muhammad Zinedine Alam Ganjar.

Salah satu yang dilakukan Atikoh adalah dengan selalu merasa cukup. Dengan prinsip tersebut, dia, Ganjar dan Alam tidak akan tergoda jika mendapat lobi dari oknum tertentu yang memiliki suatu kepentingan.

Namun, pendirian tersebut malah membuat Atikoh seringkali disebut aneh. Meski demikian, hal tersebut tidak membuat dirinya dan keluarga goyah dalam memegang prinsip.

“Saya selalu diskusi apa yang boleh dan tidak boleh, apa yang bisa saya lakukan dan tidak boleh saya lakukan. Saya mengingatkan diri sendiri, mengingatkan mas Ganjar. Saling mengingatkan juga,” kata Atikoh dalam acara Sarasehan Ibu Bersama Rakyat: Memperingati Hari Antikorupsi, di Pullman Hotel, Jakarta, Sabtu (9/12/2023).

Dengan adanya keluarga yang saling mengingatkan, prinsip antikorupsi tidak pernah luntur di dalam keluarga istri calon Presiden dengan nomor tiga itu.

“Saya selalu bilang, saya berasal dari keluarga yang sangat-sangat biasa. Jadi biasanya saya kalau sama mas Ganjar, ‘Ayah kita itu sudah lebih dari cukup, capaian ini beyond our imagination’,” jelasnya.

“Nggak pernah kepikiran saya bisa menjadi istri seorang anggota DPR RI, menjadi istri seorang gubernur, karena kita bener-bener berangkat dari masyarakat yang sangat sederhana,” sambungnya.

Namun, dirinya merasa bersyukur mendapat kepercayaan dari masyarakat Indonesia untuk memimpin Jawa Tengah dan akan memimpin Indonesia di masa depan. Walaupun sudah memiliki jabatan, prinsip antikorupsi Atikoh tidak luntur.

Dirinya tidak pernah lupa untuk selalu bersyukur. Sebab, Atikoh menjelaskan, secara kebutuhan finansial serta sandang, pangan, dan papan sudah terpenuhi.

“Kita mau cari apa lagi, udah lebih dari cukup. Sekarang waktu kita itu memang bener-bener digunakan, dikembalikan ke masyarakat,” tandasnya.

(dra)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *