Cegah Stunting dengan Air Bersih ala Ganjar, TPN: Pompa Hydram Ringankan Beban Penduduk Desa

loading…

Pompa hydram Ganjar di Desa mekarmukti, Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Foto/Ist

WONOSOBO– Direktur Eksekutif Teknologi Nilai Tambah TPN Ganjar-Mahfud , Gembong Primadjaja menjelaskan berdasarkan keterangan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) masalah stunting merupakan permasalahan gizi yang dihadapi dunia, khususnya negara-negara miskin dan berkembang.

Stunting merupakan kegagalan pertumbuhan akibat akumulasi ketidakcukupan nutrisi yang berlangsung lama mulai dari kehamilan sampai dengan usia 24 bulan. Selain malnutrisi, kurangnya akses air bersih dan sanitasi yang buruk ternyata jugamenjadi penyebabtingginya angka stunting di Indonesia.

“Menurut riset Kemenkes, stunting yang disebabkanoleh tidak adanya air bersih dan sanitasi buruk mencapai 60 persen, sementara yang dikarenakan gizi buruk ‘hanya’ 40 persen. Tak heran, kalau akses air bersih masuk sebagai salah satu tujuan dariSustainable Development Goals(SDGs) dengan target tahun 2030,” kata Gembong dalam keterangan tertulis ang diterima, Rabu (27/12/2023).

Lebih lanjut, Gembong menjelaskan kemudahan akses air bersih menjadi prioritas utama dalam pembangunan SDM di Indonesia yang bebas stunting. Akses air bersih dilakukan dengan mendistribusikan sumber air permukaan bukan air bawah tanah. Dikarenakan sumber air tanah harus dijaga untuk mencegah bencana ekologis.

“Studi yang dilakukan Galloway, peneliti dari USGS Amerika Serikat, menunjukkan bahwa 80% dari kejadian amblesan tanah di Amerika Serikat terkait pengambilan air tanah. Bencana itu juga dikategorikan sebagai bencana lingkungan karena sangat berhubungan dengan dampak lingkungan yang disebabkan berbagai aktivitas manusia.Di Indonesia, amblesan tanah banyak dijumpai di wilayah pantai utara Jawa,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Gembong, banyak ahli menyatakan bahwa amblesan tanah di beberapa kota di pantura Jawa, seperti Jakarta dan Semarang, dipicu oleh semakin masifnya pengambilan air tanah di wilayah tersebut. Wilayah pesisir sendiri merupakan wilayah dengan perkembangan paling pesat.

“Wilayah tersebut biasanya merupakan area pedataran yang terdiri atas endapan muda dan belum terkonsolidasi. Karena itu, mempunyai akuifer air tanah (lapisan berisi air tanah) yang sangat produktif dan menjadi sumber air utama masyarakat,” ungkapnya.

Gembong menambahkan berbagai teknologi penyediaan air bersih tidak sustain dikarenakan energy cost, mahal biaya maintenance, dan teknologi susah dipahami masyarakat (susah transfer teknologi). Maka untuk akses air bersih perlu diterapkan teknologi pompa hydram. Teknologi sederhana yang free energy cost ini dalam pengoperasiannya mudah dipahami masyarakat desa sehingga mudah dalam perawatan.

“Karena itu Ganjar ketika mengetahui ada 74 bayi terkena stunting di Desa Dorodewur, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo, dan mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, karena sumber airnya berjarak 700M dari desa, maka diputuskan dipasang pompa hydram untuk mengalirkan air bersih kepada 662 KK, 335 hektar lahan pertanian dan 2 pondok pesantren,” papar Gembong.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *