Menhub Berencana Bangun Ring BTS untuk Atasi Masalah Angkot di Bogor

loading…

Menhub Budi Karya berencana membuat ring Buy the Service (BTS) di perbatasan Kota Bogor untuk mengurangi angkot. Foto/MPI/putra rhamdhani astyawan

BOGOR– Wali Kota BogorBima Aryabersama Bupati Bogor Iwan Setiawan berdiskusi terkait persoalan transportasi massal di wilayahnya. Salah satunya mengenai keberadaan angkutan kota (Angkot).

Hal itu diutarakan kedua pimpinan daerah tersebut dalam acara diskusi seusai menghadiri peresmian Skybridge Stasiun Bojonggede. Diskusi itu turut juga dihadiri langsung oleh Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi.

Awalnya, Bima Arya ditanya terkait permasalahan angkot di Kota Bogor. Sebelum membahas persoalan itu, Bima sempat menceritakan suatu data yang menarik.

“Pada 2014, saya pertama kali jadi Wali Kota, saya mempelajari suatu data menarik sekali tingkat perceraian di Kota Bogor, ada hubungannya. Saya cari tahu wilayah mana yang perceraiannya paling tinggi tenyata itu sebagian besar di Bogor Barat dan Tanah Sareal wilayah perbatasan yang mana warganya commuter dari Jakarta ke Bogor,” kata Bima.

“Quantity dan quality time dengan keluarganya habis terpakai di jalan. Jadi ketika kita mengupayakan agar transportasinya lebih cepat dan lebih praktis orang akan lebih banyak di rumah apa lagi di kereta sekarang enggak boleh ngobrol kan? Kenalan tuh kecil banget. Ini dimensi sosial,” kelakar Bima, Sabtu (9/12/2023).

Bima pun menampik, jumlah angkot di Kota Bogor tak sampai sejuta seperti julukan yang selama ini di masyarakat. Dia pun sempat bergurau kepada Bupati Bogor justru angkot terbanyak berasal dari wilayah Kabupaten Bogor.

“Di bilang Bogor itu 1 juta angkot enggak banget Pak cuma 3.412 itu aja lebih banyak angkot biru dari wilayah Pak Iwan. Pak, kita udah jungkir balik kepala jadi kaki, kaki jadi kepala ngatur angkot tapi selama angkot biru masih masuk wah susah kita,” guraunya.

Sehingga, poinnya yakni permasalahan transportasi perlu dilakukan secara bersama-sama. Salah satunya, Bima berharap adanya terminal batas kota. “Jadi poinnya adalah transportasi perlu kolaborasi, ada BPTJ, ada Pak Gubernur yang kami berharap betul kebijakan terminal batas kota, pengaturan angkot dan lain-lain itu,” harap Bima.

Menanggapi hal itu, Iwan mengakui banyak trayek angkot dari wilayahnya ke Kota Bogor karena, terminal angkot memang bermuara di Kota Bogor. “Kalau sejarah angkot ya, dulunya itu kan tahun 2002, kenapa saya tahu itu? Karena saya juga salah satu yang membuat banyak trayek. Masalahnya, semua itu angkot bak hijau, biru terminalnya ke kota,” ucap Iwan.

“Ini juga PR kita bersama, jadi ada wacana angkot trayek 22 biru Kang Bima terminalnya mau di Ciawi, yang dari Leuwiliang terminalnya di Dramaga. Jadi ada 2 terminal, ada Laladon sama Galuga. Nah ini dulu begitu, tapi karena kita ini tidak ketemu, akhirnya terminalnya di Sukasari, Baranangsiang, jadi di kota semua. Mohon maaf Kang Bima, orang kabupaten naik angkot memang arahnya ke kota,” sambungnya.

Di lokasi yang sama, Menhub Budi Karya pun memberikan respons terkait permasalahan angkot di kedua wilayah itu. Yang mana akan direncanakan membuat ring Buy the Service (BTS) di perbatasan Kota Bogor untuk mengurangi angkot.

“Sehingga yang namanya angkot itu cuma di pinggiran Kota Bogor masuk gak boleh. Bahkan ditilang aja gitu. Nanti kita bikin ring BTS, titik jumpa angkot dan itu di situ. Ring itu bisa menyelesaikan perpindahan moda sehingga bukan sejuta tapi 3.412 (angkot) mungkin jadi 500 (angkot),” tutur Budi.

(cip)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *