Review Film Babak Final: Formula Basi yang Masih Bisa Bekerja Efektif

loading…

Film pendek Babak Final adalah kisah klise tapi masih memikat tentang memilih antara cinta dan cita-cita. Foto/Klik Film

JAKARTA– Saya selalu membayangkan film pendek menyajikan hal-hal segar, menarik, dan berbeda. Dalam durasi yang pendek rasanya sulit untuk mengikat sekaligus memikat penonton jika materi filmnya adalah sesuatu yang sudah sangat sering mereka lihat dalam film/serial/miniseri/sinetron/FTV.

Membuat film pendek juga seakan menuntut pembuat untuk memikirkan hal-hal yang di luar kebiasaan. Oleh karena itu kejutan atau lazimnya disebut plot twist sering kali menjadi semacam “kebutuhan” bagi film pendek untuk memikat penontonnya.

Tapi anomali masih bisa terjadi. Film dengan formula basi pun ternyata masih bisa bekerja di tangan yang tepat. Di tangan sutradara Dhisga Amandatya, film pendek berjudul Babak Final masih bisa memikat dengan formula yang sudah diulang ratusan kali dalam film/serial/miniseri/sinetron/FTV sebelumnya.

Babak Final menjadi salah satu dari lima film pendek yang tampil dalam seksi Jogja Showcase yang diputar secara daring via Klik Film dalam rangkaian Jogja-netpac Asian Film Festival (JAFF) tahun ini. Materi ceritanya tak istimewa, yaitu tentang seorang laki-laki yang dihadapkan pada sebuah pilihan: memenangkan cintanya atau mengalah demi cita-citanya.

Dengan durasi 17 menit, skenario mencoba menjalankan ceritanya secara ketat. Kita langsung dipertemukan dengan Dimas yang rupanya tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi pertandingan Tarung Derajat.

Foto: Klik Film

Tarung Derajat adalah seni bela diri berasal dari Indonesia yang diciptakan oleh Achmad Dradjat dan dideklarasikan kelahirannya di Bandung pada 18 Juli 1972. Ia mengembangkan teknik melalui pengalamannya bertarung di jalanan padamasa 1960-an di Bandung. Tarung Derajat secara resmi diakui sebagai olahraga nasional dan digunakan sebagai latihan bela diri dasar oleh TNI Angkatan Darat dan Brigade Mobil Polri.

Tarung Derajat menekankan pada agresivitas serangan dalam memukul dan menendang. Namun, tidak terbatas pada teknik itu saja, bantingan, kuncian, dan sapuan kaki juga termasuk dalam metode pelatihannya. Tarung Derajat dijuluki sebagai “Boxer”. Praktisi Tarung Derajat disebut “Petarung”.

Tak lama kemudian kita bertemu dengan Dewi, kekasih Dimas. Menariknya keduanya bertemu di areal pekuburan. Saya tak memahami alasan sutradara menggunakan lokasi ini tapi kita akhirnya tahu bahwa Dewi tengah galau dengan keputusannya untuk mengikuti pamannya pindah ke kota lain. Tapi ia harus melakukannya demi hidup keluarganya yang lebih baik.

Kita pun lantas tahu bahwa Dimas juga punya rencana untuk masa depan. Sesuatu yang sudah dipersiapkannya sejak lama. Dan Tarung Derajat akan memuluskan rencananya sehingga ia kelak bisa menikahi Dewi. Tapi hidup tak selau berjalan sesuai rencana. Di tengah kegalauan Dewi dan rencana untuk masa depannya, sesuatu terjadi. Dan Dimas pun terombang-ambing di tengahnya.

Foto: Klik Film

Materi cerita Babak Final sesungguhnya basi dan sama sekali tak istimewa. Namun filmnya menjelma cukup istimewa berkat kinerja skenario yang ditulis dengan baik, penyutradaraan yang solid, dan terutama akting dari kedua pemeran utamanya. Kita bisa melihat potensi Dhisga kelak beberapa tahun ke depan untuk melompat ke sinetron atau FTV.

Tarung Derajat menjadi sebuah nilai plus dari film pendek ini meskipun sesungguhnya tak signifikan keberadaannya dan bisa digantikan oleh cabang olahraga bela diri apa pun. Tapi latar belakang ini pula yang justru membuat karakter Dimas tampak solid dan meyakinkan sebagai seorang petarung sekaligus pejuang untuk cita-citanya.

Kita tahu produksi film pendek di Indonesia hampir selalu dikerjakan dengan biaya minim. Tapi Babak Final cerdik mengakali kekurangan tersebut dalam skenario dan tetap bisa membuat kita menunggu keputusan apa yang akan diambil oleh Dimas setelah babak final berlangsung. Apakah ia akan memenangkan cintanya atau mengalah untuk cita-citanya?

Jadinya kita pun tahu bahwa keterampilan dari pembuat film selalu menjadi faktor nomor satu. Babak Final menjadi contoh menarik bagaimana formula basi masih bisa bekerja efektif dan pada akhirnya mengikat sekaligus memikat penonton.

Ichwan Persada Sutradara/produser/penulis skenario, pernah menjadi dosen di Universitas Padjajaran dan SAE Institute, bisa dikontak via Instagram @ichwanpersada

(ita)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *